BAIT.ID – Polemik berkepanjangan terkait Kampus Melati di Samarinda Seberang kembali menjadi sorotan DPRD Kaltim. Dewan menilai, persoalan ini tak kunjung selesai karena kedua pihak -Pemprov Kaltim dan Yayasan Melati- masih saling tarik menarik. Solusinya, menurut DPRD, hanya bisa dicapai jika keduanya bersedia duduk bersama dengan kepala dingin.
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Fuad Fakhruddin, menegaskan bahwa konflik ini harus segera diakhiri demi kepentingan siswa. Ia menilai, tidak ada jalan lain selain membuka ruang dialog yang jujur dan terbuka. “Kalau terus begini, tidak akan ada ujungnya. Yang dirugikan justru para siswa, padahal mereka adalah masa depan daerah,” kata Fuad, Selasa 23 September 2025.
Konflik di SMA Negeri 10 yang menjadi bagian dari Kampus Melati memang kompleks. Mulai dari sengketa aset, pemindahan sekolah ke lokasi lama, hingga pencopotan kepala sekolah. Bahkan, terbaru Yayasan Melati menggugat Pemprov Kaltim terkait pembangunan fasilitas di kawasan Samarinda Seberang.
Menurut Fuad, semua persoalan tersebut tidak akan selesai jika hanya mengedepankan ego masing-masing. Dibutuhkan komunikasi intensif yang mengarah pada solusi. Terlebih, Pemprov Kaltim memiliki visi besar dalam mencetak generasi emas di Bumi Etam.
“Sekolah itu sudah dikenal sebagai sekolah unggulan. Mestinya langkah persuasif bisa diutamakan, bukan saling mengunci posisi,” tegas politikus Gerindra ini.
Fuad yakin, dialog yang dilakukan secara konsisten akan membuka jalan keluar. Mungkin tidak selesai dalam satu kali pertemuan, tetapi setidaknya ada titik temu untuk meredakan konflik.
“Karena ini menyangkut kepentingan bersama, saya rasa opsi duduk bersama adalah jalan terbaik,” ujarnya penuh harap.
Ia pun menutup dengan pesan bahwa penyelesaian yang adil dan inklusif akan memberikan keuntungan bagi semua pihak. Yang terpenting, pendidikan anak-anak Kaltim tetap berjalan tanpa terganggu drama panjang yang selama ini membayangi. (csv)








