BAIT.ID – Merebaknya isu keracunan akibat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) membuat Pemprov Kaltim bergerak cepat. Langkah awal yang ditempuh adalah memastikan seluruh dapur penyedia MBG memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan melalui penerbitan Surat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).
Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim mencatat, hingga saat ini sudah ada 57 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diajukan untuk memperoleh SLHS. Meski baru 42 dapur di antaranya yang aktif beroperasi di Benua Etam.
Kepala Diskes Kaltim Jaya Mualimin menyebut, belum semua penyedia makanan MBG mengantongi dokumen wajib tersebut. Namun pihaknya menargetkan seluruh SPPG aktif bisa memiliki SLHS sebelum akhir tahun.
“Kami ingin semua SPPG yang sudah beroperasi memiliki SLHS agar bisa dipantau secara menyeluruh dari aspek kesehatan lingkungannya,” ujar Jaya, Senin 6 Oktober 2025 pagi.
Dalam waktu dekat, Diskes Kaltim akan menggelar rapat koordinasi bersama Tim Percepatan Program MBG. Pertemuan lintas sektor itu diharapkan mampu mempercepat proses sertifikasi dan memastikan pemerataan di seluruh kabupaten/kota. “Pemantauan ketat terhadap kelengkapan dokumen dan hasil uji laboratorium juga terus kami lakukan,” imbuhnya.
Adapun sejumlah syarat yang harus dipenuhi meliputi denah bangunan dapur, alur produksi makanan, hingga pemeriksaan mikrobiologis untuk mendeteksi potensi kontaminasi. Diskes Kaltim juga menyiapkan pelatihan bagi tenaga pemasak makanan yang belum bersertifikat agar lebih memahami standar higienitas.
“Kami tidak akan melonggarkan persyaratan meskipun ada dorongan untuk mempercepat. Standar kebersihan tetap menjadi prioritas,” tegas Jaya.
Untuk memastikan kualitas pangan, laboratorium kesehatan daerah akan dilibatkan dalam pengambilan sampel dari 42 dapur MBG yang telah aktif. Proses ini dilakukan bersamaan dengan verifikasi kelengkapan administrasi lainnya.
Jaya menegaskan, SLHS bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting dalam mencegah risiko keracunan makanan, terutama di tengah pelaksanaan program MBG yang menyasar anak-anak sekolah. “Kalau tidak memperhatikan higienitas, berarti kita membahayakan konsumen, khususnya anak-anak,” pungkasnya. (csv)








