Harga TBS Sawit Kaltim Menguat, Petani Nikmati Lonjakan Pendapatan

Minggu, 19 Oktober 2025
Harga TBS Sawit kembali melemah akibat lesunya permintaan global. Kemitraan petani dan perusahaan sawit harus ditongkatkan. (Ilustrasi)

BAIT.ID – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kaltim kembali mengalami penguatan dalam beberapa pekan terakhir. Tren kenaikan ini menjadi angin segar bagi petani sawit, khususnya mereka yang tergabung dalam kemitraan dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit (PKS).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Andi M. Siddik, menjelaskan bahwa kenaikan harga TBS ditopang oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah penguatan harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di pasar global, serta meningkatnya permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor.

Baca juga  Agusriansyah Dorong Jalan Tol Tembus Hingga Kutim dan Berau

“Sampai pertengahan Oktober 2025, harga rata-rata tertimbang CPO ditetapkan sebesar Rp14.000 per kilogram, sedangkan kernel berada di level Rp12.000 per kilogram dengan indeks 89,06 persen,” ungkap Andi, Jumat 17 Oktober 2025 lalu.

Kenaikan harga ini berlaku untuk semua kelompok umur tanaman, dengan persentase yang berbeda-beda. Berikut rincian harga TBS berdasarkan umur tanaman. Mulai dari umur tanaman 3 tahun seharga Rp 2.965/kg, kemudian 4 tahun: Rp 3.160/kg, 5 tahun: Rp 3.181/kg dan untuk umur 6 tahun: Rp 3.216/kg.

Baca juga  BK DPRD Kaltim Kantongi Laporan Baru, Hasil Sidang Etik Harus Tertunda

Selanjutnya untuk tanaman berumur 7 tahun: Rp 3.235/kg, 8 tahun: Rp 3.259/kg, 9 tahun: Rp 3.330/kg dan 10 tahun: Rp 3.369/kg.

Menurut Andi, daftar harga tersebut menjadi acuan resmi bagi petani plasma yang telah bermitra dengan PKS di wilayah Kaltim. Dengan adanya kemitraan, posisi tawar petani menjadi lebih kuat karena harga TBS yang diterima sesuai standar pasar, bukan ditentukan sepihak oleh tengkulak.

Baca juga  Tren Pelemahan Harga CPO Tekan Nilai Jual TBS di Kaltim

“Skema kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat daya saing petani sekaligus memastikan peningkatan kesejahteraan mereka,” tegasnya.

Selain berdampak langsung pada pendapatan petani, penguatan harga TBS juga berpotensi mendorong perputaran ekonomi lokal. Kenaikan harga komoditas strategis seperti kelapa sawit ini dapat memperkuat daya beli masyarakat di sentra produksi dan mendukung stabilitas ekonomi daerah. (csv)

Bagikan