BAIT.ID – Dari aroma rempah yang menggoda hingga rasa gurih yang menempel di lidah, martabak Aceh adalah bukti betapa kayanya cita rasa kuliner dari Tanah Serambi Makkah. Begitu disantap, lapisan kulitnya yang renyah langsung berpadu dengan telur dadar lembut dan isian daging berbumbu pekat. Setiap gigitan menghadirkan sensasi yang sulit dilupakan.
Tak seperti martabak biasa, martabak khas Aceh ini menghadirkan kelezatan yang lebih berani. Isian daging sapi atau ayam cincang dimasak bersama bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, dan lada. Paduan rempah itu menciptakan wangi menggoda dan cita rasa yang kaya.
Namun, rahasia terbesar kelezatannya ada pada kuah kari rempah yang selalu menemani di setiap penyajian. Kuah santan yang kental ini diberi tambahan serai, daun kari, dan kayu manis, menciptakan rasa gurih berpadu pedas yang menggugah selera. Saat disajikan dengan acar bawang dan cabai rawit, sensasi segar dan pedasnya menambah lapisan kenikmatan di setiap suapan.
Lebih dari sekadar makanan, martabak Aceh menyimpan kisah panjang perjalanan budaya. Hidangan ini dipercaya berasal dari pengaruh komunitas India Muslim yang dahulu menetap di Aceh. Namun seiring waktu, resepnya bertransformasi, menyerap kekayaan rempah lokal hingga tercipta cita rasa khas yang kini menjadi identitas kuliner Aceh.
Kini, martabak Aceh bukan hanya sekadar sajian jalanan yang mengenyangkan. Ia adalah simbol perpaduan budaya dan warisan rasa yang patut dijaga. Gurih, pedas, harum, dan berlapis kenangan. Setiap potong martabak Aceh adalah perjalanan rasa yang tak akan pernah membosankan. (csv)








