BAIT.ID – Tekanan inflasi di Kaltim tercatat relatif terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim melaporkan inflasi tahunan (year-on-year) pada Oktober 2025 berada di level 1,94 persen. Kenaikan harga terutama disumbang dari kelompok jasa perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Kepala BPS Kaltim, Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa sebagian besar kelompok pengeluaran menunjukkan tren kenaikan harga. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan 3,74 persen. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat lonjakan signifikan mencapai 12,13 persen.
“Terdapat kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, seperti kelompok makanan, minuman, dan tembakau; perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga; hingga pendidikan,” jelas Yusniar dalam keterangan resmi, Selasa, 4 November 2025.
Secara rinci, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,08 persen. Kelompok kesehatan naik 1,38 persen, rekreasi-olahraga-budaya naik 1,47 persen, pendidikan 2,80 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran meningkat 1,66 persen.
Meski demikian, sejumlah kelompok mencatat deflasi atau penurunan indeks harga. Tekanan penurunan harga terlihat pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,15 persen serta perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga turun 1,45 persen. Kelompok transportasi juga mengalami penurunan 1,43 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,40 persen.
Di tingkat wilayah, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,47 persen. Disusul Samarinda 2,03 persen, Balikpapan 1,81 persen, dan terendah Kabupaten Berau dengan 1,78 persen.
Selain inflasi tahunan, BPS Kaltim juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,01 persen pada Oktober 2025, serta inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd) sebesar 1,55 persen.
Dengan capaian tersebut, inflasi Kaltim masih berada dalam zona terkendali dan mencerminkan stabilitas ekonomi daerah, meski tekanan harga pada beberapa komoditas rumah tangga tetap menjadi perhatian. (csv)








