BAIT.ID – Teka-teki nasib Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) pasca dua kali dihantam tongkang dalam kurun waktu berdekatan akhirnya menemui titik terang. Lewat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung E DPRD Kaltim, Rabu 7 Januari 2026, perusahaan pemilik kapal menyatakan komitmennya untuk mengganti rugi kerusakan yang mencapai angka fantastis.
Kabid Bina Marga Dinas PUPR–Pera Kaltim, M. Muhran, mengungkapkan bahwa dampak tabrakan pertama pada 23 Desember 2025 adalah yang paling parah. Secara visual, tiga unit fender atau pengaman pilar pada pier VI hilang tak berbekas. “Hitungan kami, angka kerugian dari insiden pertama itu menembus Rp30 miliar lebih. Pihak perusahaan sudah memberikan cek sebagai bentuk komitmen awal untuk membangun kembali fasilitas tersebut seperti semula,” ujar Muhran.
Rentetan Tabrakan dalam Dua PekanBelum kering luka di pier VI, Jembatan Mahulu kembali disenggol pada 4 Januari 2026. Beruntung, identifikasi kerusakan kali ini tidak separah yang pertama. Tim PUPR berhasil memisahkan tanggung jawab antara penabrak pertama dan kedua berkat dokumentasi foto yang detail.
“Tabrakan terbaru mengenai pier III, IV, V, dan VI. Memang ada bagian yang rompal sedikit, tapi mayoritas hanya tergores dan tidak sampai melukai struktur inti,” jelas Muhran.
Meski kerusakannya tergolong minor, pihak penabrak kedua tetap diwajibkan bertanggung jawab sesuai hasil audit yang sedang berjalan.
Di sisi lain, PT Dharma Lancar Sejahtera selaku pemilik tongkang yang terlibat insiden pertama memastikan mereka tidak akan lepas tangan. Kepala Cabang Samarinda, Alex Mailoa, menegaskan pihaknya akan mengikuti seluruh koridor hukum dan administratif.
Menariknya, Alex mengklarifikasi bahwa puing-puing yang sempat terlihat tersangkut di tiang jembatan saat kejadian bukanlah rontokan semen jembatan, melainkan bagian dari badan tongkang mereka yang hancur.
“Kami menggunakan asuransi dan siap bertanggung jawab penuh. Hasil pengukuran awal juga menunjukkan tidak ada pergeseran struktur pada jembatan, jadi secara konstruksi masih aman,” kata Alex.
Kini, bola panas ada di tangan Dinas PUPR untuk memastikan spesifikasi pembangunan kembali fender tersebut sesuai standar keamanan, agar Jembatan Mahulu kembali memiliki perisai yang mumpuni menghadapi lalu lintas perairan Mahakam yang padat. (csv)








