Digitalisasi Keuangan Kaltim Melesat: Pengguna QRIS Tembus 841 Ribu di Tengah Kontraksi DPK

Sabtu, 24 Januari 2026
Pembayaran digital di Kaltim sampai akhir 2025 meningkat pesat. Peningkatan ini didorong makin banyaknya entitas bisnis yang menggunakan sistem QRIS. (ilustrasi)

BAIT.ID – Tren digitalisasi sistem pembayaran di Kaltim menunjukkan resiliensi yang kuat. Memasuki medio November 2025, adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Benua Etam terus mencatatkan kurva pertumbuhan positif, baik dari sisi pengguna maupun penetrasi merchant.

Berdasarkan data terbaru, jumlah pengguna QRIS di Kaltim kini menyentuh angka 841,6 ribu, naik tipis dari posisi Oktober 2025 yang sebesar 832,6 ribu pengguna. Ekspansi ini linear dengan pertumbuhan sisi suplai, di mana jumlah merchant yang mengadopsi QRIS melesat menjadi 780,6 ribu, meningkat signifikan dari angka sebelumnya 763,1 ribu.

Baca juga  Pansus DPRD Kaltim Tinjau Lapangan, Kumpulkan Data untuk Regulasi Lingkungan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Budi Widihartanto, menegaskan bahwa volume transaksi digital ini mencatatkan nominal yang impresif sepanjang November 2025. Namun, potret berbeda terlihat pada agregat Sistem Pembayaran Non-Tunai secara umum yang justru mengalami kontraksi sedalam 20,6 persen (yoy).

Di sisi lain, ketergantungan masyarakat terhadap likuiditas fisik masih terasa. “Terkait peredaran uang tunai, Kaltim mencatatkan posisi net outflow sebesar Rp491,2 miliar,” ujar Budi.

Baca juga  Layanan Jemput Bola Disdukcapil Kaltim Sasar Ratusan Pekerja Sawit di Perbatasan Berau–Kutim

Sektor perbankan lokal juga menampilkan performa yang variatif. Pertumbuhan kredit terpantau ekspansif di level 3,90 persen (yoy). Pertumbuhan ini utamanya dipicu oleh geliat kredit konsumsi dan investasi, meski kredit modal kerja masih tertahan di zona kontraksi.

Meski penyaluran kredit tumbuh, perbankan Kaltim menghadapi tantangan dalam penghimpunan dana. Kontraksi DPK sebesar 6,74 persen (yoy) mencerminkan adanya pergeseran penempatan dana atau penggunaan cadangan kas oleh korporasi maupun individu, mengingat penurunan terdalam terjadi pada instrumen giro dan deposito.

Baca juga  Kerja Kolektif Borneo FC Kunci Kemenangan ke-9 Beruntun

Stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan tetap berada dalam radar aman, didukung oleh angka NPL yang jauh di bawah threshold regulasi, yakni hanya sebesar 1,70 persen. (csv)

Bagikan