BAIT.ID – Menghadapi banjir di Samarinda bukan lagi sekadar urusan membersihkan parit atau mengeruk sungai. Menyadari ancaman perubahan iklim yang makin nyata, Pemkot Samarinda kini menggandeng tim ahli dari Kanada, FINCAPES (Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability), untuk memetakan masa depan kota melalui pemodelan risiko banjir berbasis data ilmiah.
Kolaborasi ini resmi dimulai dalam pertemuan di Hotel Mercure Samarinda, Rabu 28 Januari 2026. Tujuannya agar Samarinda memiliki cetak biru pembangunan yang tidak hanya indah di atas kertas, tapi juga tangguh menghadapi cuaca ekstrem hingga puluhan tahun ke depan.
Bukan tanpa alasan tim dari University of Waterloo, Kanada, ini melirik Samarinda. Letaknya yang strategis di sepanjang aliran Sungai Mahakam, ditambah dengan frekuensi banjir perkotaan yang tinggi, menjadikan kota ini lokasi krusial untuk riset iklim.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menegaskan bahwa kebijakan kota ke depan harus beralih dari sekadar respons darurat menuju perencanaan berbasis data (data-driven). “Kami ingin memastikan pembangunan kota benar-benar berdasarkan analisis risiko yang komprehensif. Samarinda siap terbuka dan proaktif dalam menyediakan data agar kajian ini akurat,” ujar Saefuddin.
Proyek FINCAPES sendiri merupakan inisiatif Pemerintah Kanada yang lahir dari forum G20 di Bali. Di Samarinda, riset mendalam ini dijadwalkan berlangsung hingga tahun 2028.
Mawardi Muhammad, Project Officer FINCAPES, menjelaskan bahwa timnya akan memasukkan variabel perubahan iklim ke dalam simulasi komputer. Nantinya, warga dan pemerintah bisa melihat gambaran nyata, apakah banjir di Samarinda akan semakin parah, atau justru bisa dikendalikan. “Kami akan memotret potensi peningkatan risiko banjir dalam periode waktu tertentu. Hasilnya bukan sekadar angka, tapi menjadi dasar bagi kebijakan pembiayaan iklim dan solusi teknis di lapangan,” jelas Mawardi.
Dengan adanya pemodelan ini, Pemkot Samarinda diharapkan tidak lagi menebak-nebak dalam membangun infrastruktur. Jika data menunjukkan kenaikan permukaan air atau intensitas hujan tertentu di tahun 2030, maka desain drainase dan tata ruang kota sudah harus disiapkan sejak sekarang.
Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan tim ahli internasional ini diharapkan mampu mengubah wajah Samarinda dari kota yang akrab dengan banjir menjadi kota yang adaptif terhadap tantangan iklim global. (csv)








