BAIT.ID – Krisis beras di Kaltim tidak hanya dipicu oleh menipisnya stok di pasaran, tetapi juga karena jalur distribusi yang terganggu. Para distributor menyebut, dua faktor utama yang menjadi penghambat adalah turunnya produksi dari daerah asal dan ketidakpastian Harga Eceran Tertinggi (HET).
Erwin, distributor beras merek Sedap Wangi, mengungkapkan pasokan yang biasanya mencapai 400 ton per minggu kini anjlok menjadi hanya 100 ton. Kondisi itu diperparah oleh lamanya pengiriman dari Jawa yang bisa memakan waktu 5–7 hari. “Kalau kami berani kirim dalam jumlah besar, lalu tiba-tiba HET turun, kerugian yang ditanggung juga besar. Karena itu kami harus lebih berhati-hati,” jelas Erwin.
Hal senada diungkap Felix, distributor beras merek Kura-Kura. Ia menyebut stok di gudangnya masih ada sekitar 250-300 ton, namun terhambat distribusinya lantaran hasil inspeksi Satgas Pangan menemukan kualitas beras tidak sesuai standar premium. “Sekarang kami masih koordinasi dengan pabrik untuk memastikan kualitasnya sesuai ketentuan,” kata Felix.
Sementara itu, dua distributor lain, Yandy (Tiga Mangga) dan Edho (Bondy), menekankan bahwa masalah utama justru ada di sisi produksi. Harga bahan baku di Jawa melonjak tajam, beberapa pabrik jadi menghentikan sementara produksi mereka. “Banyak pabrik di Jawa yang menghentikan produksi karena harga bahan baku melonjak. Inilah yang membuat distribusi ke daerah termasuk Kaltim ikut terganggu,” ungkap Yandy.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa selain stok lokal yang terbatas, ketergantungan Kaltim terhadap pasokan luar daerah semakin rawan ketika produksi menurun dan kebijakan harga tak menentu. (csv)








