Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Kaltim Melonjak, Tembus 662 Kasus per Juni 2025

Jumat, 29 Agustus 2025
Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti

BAIT.ID – Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kaltim terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Hingga akhir Juni 2025, tercatat sudah ada 662 kasus, dengan korban anak mendominasi sebanyak 454 kasus atau 62,97 persen dari total laporan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, Noryani Sorayalita, mengungkapkan bahwa jumlah tersebut berpotensi terus meningkat hingga akhir tahun. “Kami berharap kasusnya menurun, tetapi melihat tren saat ini, angkanya sangat mengkhawatirkan,” ujarnya dalam sebuah seminar parenting di Samarinda, belum lama ini.

Baca juga  Tanpa Pengaman Pilar, Jembatan Mahulu Kini dalam Posisi Rawan

Padahal, pada 2024 lalu sempat terjadi penurunan menjadi 941 kasus dari 1.108 kasus di tahun sebelumnya. Namun kini ancaman lonjakan kembali terjadi. Jenis kekerasan yang paling banyak dilaporkan adalah kekerasan seksual, disusul kekerasan fisik dan psikis.

Fenomena ini mendapat sorotan dari Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Damayanti. Ia menyebut kondisi tersebut sangat memprihatinkan sekaligus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya keluarga atau pemerintah. “Sangat miris, per Juli saja sudah lebih dari 600 anak menjadi korban kekerasan. Ini tanggung jawab kita semua,” tegasnya.

Baca juga  Penyertaan Modal ke BUMD Tunggu Direksi Baru Terpilih

Selain kasus dalam rumah tangga, Damayanti menyoroti pula meningkatnya kasus perundungan di sekolah. Menurutnya, salah satu kunci pencegahan adalah memperkuat pendidikan karakter sejak usia dini. “Pembentukan karakter dimulai dari keluarga, kemudian diperkuat di sekolah. PAUD, TK, hingga SD harus mendapat perhatian serius,” jelas Ketua Fraksi PKB tersebut.

Komisi IV DPRD Kaltim, yang membidangi isu perempuan, anak, pendidikan, hingga kesejahteraan sosial, berkomitmen mendorong pemerintah lebih serius membangun fondasi akhlak dan etika generasi muda. Damayanti menekankan, keluarga tetap menjadi garda terdepan.“Maka dari itu, edukasi keluarga sangat penting,” tambahnya.

Baca juga  Kaltim Ambil Peran dalam Deklarasi Swasembada Pangan

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat pun disebut sebagai kunci menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. “Jika pendidikan karakter diperkuat sejak dini, kita berharap generasi Kaltim ke depan tumbuh berakhlak, beretika, dan jauh dari kekerasan,” pungkasnya. (csv)

Bagikan