Anggaran Terpangkas, Dispar Kaltim Fokus ke Desa Wisata

Senin, 29 Desember 2025
Ririn Sari Dewi, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim

BAIT.ID – Menyusutnya APBD Kaltim 2026 memaksa sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memutar otak dalam menyusun skala prioritas. Tak terkecuali Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim yang harus merelakan pagu anggarannya merosot tajam, dari semula Rp38 miliar menjadi hanya Rp20 miliar.

Meski ruang gerak fiskal terbatas, Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa pengembangan Desa Wisata akan tetap menjadi “ujung tombak” program kerja tahun depan. Langkah ini diambil selaras dengan program prioritas kepala daerah dan konsep Jospol.

Baca juga  APBD Perubahan Dipastikan Tanpa Bankeu, Hibah dan Bansos

Ririn menyadari bahwa membangun pariwisata tidak bisa dilakukan sendirian, apalagi dengan anggaran yang terpangkas hampir separuhnya. Dispar pun mulai memperkuat strategi kolaborasi. Dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) akan dimanfaatkan. Perusahaan di Kaltim didorong untuk menyalurkan tanggung jawab sosial mereka pada pembangunan infrastruktur dasar dan digitalisasi desa.

“CSR kami arahkan terutama ke akses internet, agar promosi desa wisata bisa lebih masif,” jelas Ririn.

Kemudian Dispar menggandeng Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM untuk membantu sertifikasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) produk lokal desa. Serta penguatan ekonomi yang bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa melalui pemberdayaan BUMDes serta pembinaan UMKM bersama Bank Indonesia.

Baca juga  Pemprov Kaltim Kucurkan Rp10 Miliar untuk Gratis Biaya Administrasi Rumah Subsidi

Saat ini, Kaltim memiliki 105 desa wisata yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Namun faktanya, hampir separuh dari jumlah tersebut masih belum terekspos ke publik.Salah satu contohnya adalah Pantai Marang di Kaliorang, Kutai Timur. Menurut Ririn, pantai ini memiliki daya pikat luar biasa yang mampu menggaet banyak wisatawan jika dikelola dengan serius. Hal ini kontras dengan beberapa destinasi yang sudah lebih dulu moncer, seperti Tapak Raja di Sepaku dan Desa Pela di Kutai Kartanegara.

Baca juga  Latihan Borneo FC Makin Intensif, Jelang Laga Perdana

Di akhir keterangannya, Ririn menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah membenahi fasilitas dasar yang ramah wisatawan. Baginya, kenyamanan adalah magnet terbaik untuk meningkatkan angka kunjungan. “Kami terus mendorong peningkatan fasilitas dasar. Jika kenyamanan pengunjung terjamin, secara otomatis kunjungan akan meningkat dan ekonomi lokal akan bergerak,” pungkasnya. (csv)

Bagikan