BAIT.ID – Upaya mengatasi kelangkaan beras di Bumi Etam, Pemprov Kaltim bakal menggandeng Badan Urusan Logistik (Bulog) dan tim Satgas Pangan. Tujuan utama tentu saja untuk kembali menormalkan pasokan beras. Serta memperlancar arus distribusi makanan pokok tersebut.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, mengatakan bahwa dua lembaga diminta membantu menyetabilkan kelangkaan beras ini. Bulog diminta untuk mengisi kekosongan stok, sementara Satgas Pangan turun ke lapangan untuk pengawasan harga dan distribusi.
“Kami sudah minta Bulog untuk masuk mengisi kekosongan. Koordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerag dan Satgas Pangan juga terus berjalan,” ucap Rudy.
Ia juga mengimbau agar distributor tidak takut dengan regulasi terkait kualitas dan harga. “Selama sesuai ketentuan, tidak perlu takut. Pastikan saja kualitasnya premium kalau memang dijual sebagai beras premium,” sebutnya.
Sementara itu Kepala Bulog Samarinda, Edi Yanuar, mengatakan bahwa sejauh ini stok beras milik Bulog terbilang aman. Paling tidak ketersediaan mencukupi hingga akhir tahun. Ada 8.900 ton yang kini tersimpan di gudang Bulog di Jalan Ir Sutami, Samarinda. “Jadi bisa dibilang aman hingga akhir tahun. Masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Edi.
Kemudian Bulog juga mulai menyalurkan beras mereka ke pasar tradisional dan ritel modern. Beberapa kota seperti Balikpapan dan Samarinda bahkan distribusinya sudah berjalan. Pihaknya coba menyalurkan beras sebanyak 30 ton tiap pekan. “Permintaan bisa tembus 100 ton tiap minggu. Tapi siapkan stok secara bertahap dahulu,” sebutnya.
Bulog juga memastikan harga jual beras tetap sesuai aturan. Untuk wilayah distribusi II termasuk Samarinda, harga pembelian dari Bulog ditetapkan Rp11.300 per kilogram. Batas tertinggi harga eceran (HET) ditetapkan Rp13.100 per kilogram atau Rp65.500 per sak isi 5 kilogram. “Di pasar murah, harganya bisa lebih rendah lagi, sekitar Rp55.000 per sak. Itu jauh lebih murah dari pasaran,” tegasnya, mengakhiri. (csv)








