Ironi di Balik Lumbung Padi Samarinda: Menanti Beras saat Sawah Terendam

Senin, 12 Januari 2026
Kondisi salah satu sawah di Samarinda yang perlu penanganan khusus mengingat kondisi cuaca dan sistem irigasi yang belum optimal.

BAIT.ID – Upaya mengejar swasembada pangan ternyata tak semudah membalik telapak tangan, setidaknya bagi para petani di kawasan Betapus, Samarinda Utara. Di balik hamparan hijau seluas 210 hektare, ada kecemasan yang menggantung setiap kali langit mulai mendung.

Sepanjang tahun 2025, impian panen raya sering kali pupus. Sawah-sawah tadah hujan di sana justru lebih mirip kubangan besar akibat curah hujan yang tak menentu dan sistem irigasi yang masih jalan di tempat.

Adung KS Utomo, Manajer Brigade Pangan Suluh Manuntung, tidak menutupi kondisi pahit yang dialami timnya. Meski pemerintah gencar mendorong produktivitas, realita di lapangan berkata lain. “Tahun lalu itu pukulan telak. Dua kali kami coba tanam, dua-duanya bermasalah. Ada yang bisa dipanen, tapi hasilnya anjlok drastis,” ucap Adung saat ditemui Senin, 12 Januari 2026.

Baca juga  Pemkot Samarinda Siapkan Angkutan Gratis bagi Pelajar, Dishub Mulai Tahap Simulasi

Waduk Benanga yang seharusnya menjadi tumpuan nyatanya belum bisa diandalkan. Akibatnya, petani terjebak dalam dilema cuaca. Saat padi butuh kering, hujan justru turun tak henti. Sebaliknya, saat butuh pengairan, air justru menghilang.

Bukan hanya soal alam, masalah birokrasi dan distribusi juga menghantui. Meski bantuan alat mesin, benih, hingga obat-obatan sudah mulai mengalir, ada satu rantai yang sering terputus: pupuk.

Adung mengungkapkan bahwa pupuk sering datang terlambat. Padahal, dalam dunia pertanian, waktu adalah segalanya. “Padi usia 7-10 hari itu masa paling krusial. Kalau pupuk baru datang setelah itu, ya jangan harap hasilnya bisa maksimal,” tegasnya.

Baca juga  Borneo FC Siap Tempur Hadapi Arema, Fabio Lefundes: Kami Harus Tetap Konsisten!

Tak berhenti di situ, urusan pasca-panen pun masih menyisakan lubang. Pada panen ketiga tahun lalu, sebagian gabah petani tidak terserap oleh Bulog. Alhasil, mereka harus berjuang sendiri mencari pembeli ke penggilingan dengan harga yang tidak menentu.

Dengan biaya tanam mencapai Rp10–12 juta per hektare, sekali saja banjir merendam sawah, petani bukan hanya kehilangan beras, tapi juga tabungan hidup mereka.

Baca juga  Komisi III DPRD Kaltim Tinjau Ulang Longsor Batuah, Bahas Relokasi dan Dugaan Dampak Tambang

Brigade Pangan yang dikomandoi Adung sebenarnya dirancang untuk menarik minat anak muda (petani milenial). Namun kenyatannya, dari 15 anggota, mayoritas sudah berusia di atas 50 tahun. Sulit mengajak yang muda jika bertani masih dianggap sebagai pekerjaan yang penuh risiko dan minim perlindungan harga.

Kini, menatap panen yang diperkirakan jatuh pada awal Maret mendatang, Adung tak ingin sesumbar. Target tinggi bukan lagi prioritas utamanya. “Saya cuma bisa semangati teman-teman. Hasilnya nanti saja kita lihat. Yang penting, kalau gagal lagi, kita tahu apa masalahnya dan pemerintah harus benar-benar hadir dengan solusi, bukan sekadar janji,” tutupnya. (csv)

Bagikan