BAIT.ID – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim diberi kewenangan mengelola sejumlah gelanggang olahraga di Samarinda. Namun, pengelolaan ini justru membebani karena tingginya biaya pemeliharaan.
Dua aset utama yang dikelola, yakni GOR Kadrie Oening Sempaja dan Kompleks Stadion Utama Kaltim di Palaran, setiap tahun membutuhkan biaya perawatan sekitar Rp6 miliar. Sayangnya, pemasukan yang diperoleh dari kedua kawasan itu tak pernah lebih dari Rp2 miliar per tahun.
Masalah ini mencuat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kaltim bersama Dispora. Anggota Komisi IV, Damayanti, menilai kesenjangan antara pendapatan dan biaya pemeliharaan cukup mengkhawatirkan. “Yang kami soroti adalah angka pemeliharaan yang mencapai Rp6 miliar per tahun. Itu beban berat bagi APBD,” tegasnya.
Meski begitu, DPRD tetap mendorong agar Dispora bisa lebih kreatif mengoptimalkan aset yang ada. “Dispora harus bisa memanfaatkan pengelolaan GOR ini dengan maksimal, jangan terus bergantung pada suntikan APBD,” tambah Damayanti.
Selama ini, GOR Kadrie Oening menjadi penyumbang pemasukan terbesar. Sumber pendapatannya berasal dari sewa asrama atlet, sewa gedung serbaguna, retribusi kawasan, serta kontribusi UMKM. Lokasinya yang strategis membuat GOR ini kerap dipakai untuk berbagai event besar.
Sebaliknya, Kompleks Stadion Utama Kaltim di Palaran masih minim pendapatan. Kawasan tersebut hanya mengandalkan retribusi masuk dan lapak UMKM. Padahal, pada 2024 lalu Pemprov Kaltim sudah menggelontorkan Rp10 miliar untuk renovasi, namun hingga kini belum ada hasil signifikan.
Menurut Damayanti, ada sejumlah peluang yang bisa digarap untuk menambah pemasukan, mulai dari optimalisasi parkir, pemanfaatan gedung serbaguna, hingga penyelenggaraan event skala besar. “Kami harap Dispora bisa memaksimalkan potensi ini, agar biaya pemeliharaan tidak selalu membebani APBD,” pungkasnya. (csv)








