Klappertaart: Jejak Manis Kolonial Belanda di Tanah Manado

Selasa, 21 Oktober 2025
Klappertaart Manado jadi wujud asli akulturasi budaya Eropa dan Indonesia. (istimewa)

BAIT.ID – Di antara ragam kuliner Nusantara yang kaya cita rasa dan sejarah, klappertaart dari Manado menjadi salah satu warisan yang paling menarik. Kue lembut dengan perpaduan rasa manis dan gurih ini bukan sekadar hidangan penutup, tapi juga cermin dari pertemuan dua budaya: Eropa dan Indonesia.

Klappertaart, yang dalam bahasa Belanda berarti kue kelapa (klapper = kelapa, taart = kue), hadir sebagai simbol manis dari masa kolonial. Pengaruh kuliner Belanda pada abad ke-16 hingga awal abad ke-20 melahirkan hidangan ini, memadukan bahan lokal seperti kelapa muda dengan teknik memanggang khas Eropa.

Kue ini dikenal dengan teksturnya yang lembut dan aroma harum kelapa yang menggoda. Disajikan dingin dan ditemani secangkir kopi hitam, sepotong klappertaart mampu menghadirkan kehangatan dan nostalgia dalam setiap suapan.

Baca juga  Pedal Kopling Bunyi Saat Diinjak? Waspadai Gejala Awal Masalah di Sistem Transmisi

Menurut Journal of Ethnic Foods Universitas Surya berjudul Klappertaart: An Indonesian-Dutch Influenced Traditional Food (2018), tercatat bahwa kreasi ini lahir dari kreativitas para wanita Belanda yang tinggal di Manado. Melimpahnya kelapa muda di tanah Minahasa menginspirasi mereka untuk menciptakan versi tropis dari taart Eropa dengan bahan lokal namun tetap berkelas.

Awalnya, klappertaart hanyalah sajian eksklusif di kalangan menengah atas Belanda. Bahan-bahannya yang mahal, seperti susu, tepung terigu, raisin (anggur kering), rum, kacang kenari, kuning telur, hingga daging kelapa muda, membuatnya sulit dijangkau oleh masyarakat lokal. Apalagi, beberapa bahan seperti susu dan turunannya kala itu masih harus diimpor dari daerah lain seperti Bandung, Malang, Boyolali, Pasuruan, dan Semarang.

Baca juga  Nasi Kapau: Warisan Cita Rasa Asli dari Tanah Minang

Namun cinta terhadap cita rasa tak mengenal batas. Para wanita Belanda di Manado terus berinovasi agar bisa menghadirkan klappertaart di meja makan mereka. Dari rumah ke rumah, dari dapur kolonial hingga dapur masyarakat lokal, resep klappertaart pun menyebar, dibawa oleh para juru masak pribumi yang bekerja untuk keluarga-keluarga Belanda, serta melalui buku resep warisan para nyonya di masa lalu.

Baca juga  Daya Tarik Pantai Bama Baluran: Pasir Putih, Hutan Bakau, dan Laut Jernih

Kini, klappertaart bukan lagi makanan eksklusif. Ia bisa dinikmati siapa saja, kapan saja, baik dipanggang hingga bertekstur padat dan mudah dipotong, maupun dikukus untuk hasil yang lembut dan lumer di mulut. Biasanya disajikan dalam wadah aluminium foil, siap disantap langsung dengan sendok.

Dengan setiap gigitan, klappertaart membawa kita menelusuri sejarah panjang kuliner Nusantara. Tentang bagaimana kelapa, bahan sederhana dari tanah tropis, berpadu dengan tradisi Eropa untuk melahirkan kue yang manis, elegan, dan penuh cerita. (csv)

Bagikan