BAIT.ID – Provinsi Kaltim resmi menutup tahun 2025 dengan catatan inflasi tahunan (y-on-y) sebesar 2,68 persen. Meski menunjukkan tren akselerasi dibandingkan tahun sebelumnya, angka ini dinilai masih terkendali dan berada di bawah rata-rata inflasi nasional.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Yusniar Juliana, mengungkapkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Benua Etam berada di level 109,80 pada Desember 2025. Jika dikomparasikan, laju kenaikan harga tahun ini melampaui capaian 2024 yang hanya menyentuh angka 1,47 persen. “Realisasi ini mencerminkan dinamika harga konsumen di sepanjang 2025 yang bergerak lebih progresif dibandingkan tahun lalu,” jelas Yusniar dalam keterangan resminya, Senin 5 Januari 2026.
Secara spasial, tekanan inflasi tersebar merata di empat wilayah pantauan IHK di Kaltim. Kabupaten Berau mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 2,82 persen, disusul oleh Balikpapan (2,71 persen) dan Samarinda (2,70 persen). Sementara itu, Penajam Paser Utara menjadi wilayah dengan tekanan harga paling moderat di level 2,08 persen.
Dari sisi sektoral, lonjakan inflasi didorong oleh kenaikan indeks pada mayoritas kelompok pengeluaran. Sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi motor utama dengan kenaikan signifikan sebesar 12,55 persen. Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memiliki bobot besar dalam konsumsi rumah tangga juga mengalami kenaikan 4,72 persen.
Sektor strategis lainnya yang turut menyumbang angka inflasi adalah sektor pendidikan dengan 2,80 persen, transportasi (1,79), penyediaan makanan dan minuman atau restoran (1,68), serta sektor kesehatan (1,41).
Di tengah tren kenaikan, beberapa kelompok pengeluaran justru mencatatkan deflasi atau penurunan indeks. Sektor pakaian dan alas kaki terkoreksi sebesar 1,43 persen, diikuti oleh kelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 1,22 persen.
Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan serta sektor perumahan, air, dan energi juga mengalami penurunan tipis, yang sedikit banyak menjadi penyeimbang agar inflasi tidak melambung lebih jauh.
Dengan posisi inflasi di bawah rata-rata nasional, stabilitas ekonomi Kaltim di awal 2026 diprediksi tetap terjaga, meskipun pemerintah daerah tetap perlu mewaspadai fluktuasi harga pada kelompok pangan dan jasa perawatan pribadi yang menjadi kontributor utama inflasi tahun lalu. (csv)








