BAIT.ID – Ketergantungan Kaltim pada sektor sumber daya alam (SDA) mulai dirasa sebagai “zona nyaman” yang berisiko. Menyadari hal itu, DPRD Kaltim pun melirik Jawa Timur sebagai model sukses daerah yang mampu mandiri tanpa harus terus-menerus mengeruk bumi.
Apalagi Jawa Timur konsisten meraup Pendapatan Asli Daerah (PAD) di angka Rp20 triliun, sebuah angka yang diraih lewat diversifikasi ekonomi yang matang.
Sekretaris Komisi II DPRD Kaltim, Nurhadi Saputra, menegaskan bahwa kunjungan mereka ke Jawa Timur bukan sekadar untuk mengagumi nominal pendapatan, melainkan membedah dasar sistem pengelolaannya.
“Yang menarik bagi kami bukan semata-mata angka PAD-nya, tapi bagaimana mereka mengelola dan memanfaatkan pendapatan itu. Itulah kuncinya,” ungkap Nurhadi.
Ia mengakui, Kaltim dan Jatim memang punya wajah ekonomi yang berbeda. Jika Kaltim kental dengan industri ekstraktif (tambang), Jatim justru bersandar pada sektor industri pengolahan dan jasa yang tersebar merata dari Sidoarjo, Gresik, hingga Malang. Namun, perbedaan karakteristik ini menurutnya bukan alasan untuk menutup diri dari perubahan.
Nurhadi menggarisbawahi beberapa catatan penting dari hasil kunjungan teraebut. Pertama soal pemerataan ekonomi di Jatim yang memiliki jaringan wilayah administratif yang aktif menggerakkan ekonomi secara kolektif. Selain itu disokong pula oleh kekuatan industri, sejauh ini sektor manufaktur menjadi tulang punggung utama, bukan sekadar menjual bahan mentah.
Di tambah kemandirian sektor lain yang mampu bertahan meski tanpa sokongan masif dari dana bagi hasil sektor keruk.
Meski membawa pulang banyak catatan, Nurhadi mengakui bahwa pertemuan dengan DPRD Jatim belum masuk ke tahap teknis yang mendalam. Padatnya agenda kedua belah pihak membuat diskusi baru menyentuh permukaan atau gambaran umum kelembagaan saja. “Banyak anggota DPRD Jatim yang sedang tugas luar daerah, jadi diskusi kemarin lebih fokus ke gambaran umum sistem kerja dan pengelolaan PAD secara makro,” tutupnya.
Bagi Kaltim, perjalanan ke Jawa Timur ini menjadi pengingat keras, saat harga komoditas jatuh atau cadangan alam habis, sistem pengelolaan keuangan yang mandiri dan terarah adalah satu-satunya pelampung yang tersisa. (csv)








