Minat Baca di Kaltim Masih Rendah, Literasi Perlu Jadi Gerakan Bersama

Sabtu, 20 September 2025
Hasil tangkapan layar acara dialog yang membahas tingkat literasi di Kaltim

BAIT.ID – Upaya meningkatkan kesadaran literasi masyarakat Kaltim masih menghadapi tantangan besar. Di tengah derasnya arus digitalisasi, minat baca di Bumi Etam belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Isu ini menjadi sorotan dalam program Publika di salah satu stasiun televisi lokal bertajuk “Tingkatkan Indeks Literasi dan Minat Baca di Kaltim” yang tayang pada Jumat (19/9/2025) sore.

Kabid P3KM Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim, Hana Iriana, menjelaskan indeks literasi Kaltim tahun 2024 berada di angka 78,34 dari skala 100. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional RI, capaian tersebut masih dikategorikan “sedang”.

Baca juga  Buku “Samarinda dalam 3 Masa” Resmi Diluncurkan, Ungkap Perjalanan Kota dari Masa ke Masa

“Memang ada tren berkembang, tapi angka itu belum cukup untuk menjadikan literasi sebagai budaya yang mengakar,” ujar Hana.

Untuk menjawab tantangan tersebut, DPK Kaltim menghadirkan berbagai inovasi, termasuk layanan digital berupa e-book dan platform literasi daring. Hana menegaskan, membaca seharusnya tidak lagi dipandang sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan sehari-hari.

Namun, derasnya arus informasi di era digital menimbulkan dilema. Internet yang semakin mudah diakses memang bisa mempercepat literasi, tetapi juga berpotensi menjadi distraksi, terutama bagi generasi muda yang lebih tertarik pada konten hiburan dibandingkan buku atau jurnal ilmiah.

Baca juga  52 Nyawa Melayang di Lubang Tambang, Lagi-lagi Tanpa Tindakan Nyata

Pegiat literasi, Sudarman, menekankan bahwa minat baca tidak hanya sebatas memegang buku, melainkan bagian dari membangun budaya literasi. “DPK sudah banyak memfasilitasi, tinggal bagaimana kita semua membiasakan membaca, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas,” ujar Direktur Lembaga Pendidikan dan Pelatihan GPMB Kaltim ini.

Sementara itu, akademisi Universitas Mulawarman, Muhammad Arifin, mengingatkan pentingnya literasi sebagai fondasi generasi muda Kaltim dalam menghadapi perubahan global. Menurutnya, literasi bukan sekadar membaca, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, menyaring informasi, menangkal hoaks, serta memanfaatkan teknologi secara bijak. “Kalau literasi kuat, sumber daya manusia Kaltim akan siap bersaing di tingkat global,” tegasnya.

Baca juga  Labuan Cermin: Pesona Danau Dua Rasa di Kaltim

Melalui kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas literasi, dan masyarakat luas, literasi diharapkan tidak lagi sebatas program, melainkan menjadi gerakan bersama demi mencetak generasi Kaltim yang unggul. (csv)

Bagikan