BAIT.ID – Harapan baru bagi pasien gagal ginjal di Kaltim segera terwujud. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda tengah bersiap membuka layanan transplantasi ginjal pertama di Kaltim, sekaligus menjadi rumah sakit kedua di Indonesia yang mampu melakukan prosedur medis berisiko tinggi ini setelah Makassar.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD AWS, Dr. Indah Puspitasari, menyebut persiapan layanan ini merupakan langkah strategis dalam mendukung program nasional pengembangan rumah sakit rujukan berbasis layanan unggulan regional.
“Transplantasi ginjal ini merupakan yang kedua di Indonesia setelah Makassar, dan pertama di Kalimantan Timur. Kami sudah mempersiapkan sejak setahun terakhir, dan harapannya tahun ini sudah bisa terlaksana dengan hasil terbaik,” ujar Dr. Indah, belum lama ini.
Dalam tahap awal pelaksanaannya, RSUD AWS tidak berjalan sendiri. Prosedur transplantasi akan didampingi langsung oleh Tim Transplantasi Ginjal Nasional serta mendapat pengawasan dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, yang menjadi rumah sakit pusat rujukan nasional.
Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSUD AWS, Dr. Astried Indrasari, menjelaskan bahwa pengembangan pusat layanan transplantasi dilakukan secara bertahap menuju sistem pelayanan yang paripurna. Seluruh proses, kata dia, akan melalui tahapan skrining ketat antara pendonor dan penerima organ.
“Prosedur dimulai dari skrining pendonor dan penerima, kemudian pemeriksaan kecocokan medis. Untuk tahap ini, kami hanya menerima pendonor yang memiliki hubungan keluarga dengan pasien,” jelasnya.
Dari sisi fasilitas, RSUD AWS telah menyiapkan dua ruang operasi terpisah untuk pendonor dan penerima guna mempercepat proses pemindahan organ. “Semakin cepat ginjal dipindahkan, semakin baik hasilnya. Karena itu, dua ruang operasi ini sangat penting untuk menjaga kualitas organ,” lanjut Astried.
Layanan transplantasi ginjal ini juga akan difasilitasi oleh BPJS Kesehatan, meski tidak seluruh biaya ditanggung penuh. Untuk pasien dari luar daerah, rumah sakit menyiapkan rumah singgah sesuai kebutuhan dan jarak tempat tinggal.
Guna menjaga transparansi dan etika medis, RSUD AWS membentuk dua tim koordinasi khusus, yakni koordinator medis dan koordinator administrasi. Keduanya akan memantau setiap tahap proses pasien, mulai dari pra-transplantasi hingga masa pemulihan.
“Kami juga memiliki tim advokasi untuk memastikan tidak ada konflik antara pendonor dan penerima serta mencegah praktik ilegal dalam transplantasi organ, khususnya ginjal,” tegas Astried.
Selain itu, RSUD AWS juga mendukung inisiatif Komite Transplantasi Nasional dalam membangun sistem pendataan pendonor ginjal di Indonesia. Sebuah langkah penting menuju pengelolaan data pendonor yang transparan dan terintegrasi secara nasional.
Dengan segala kesiapan dan dukungan lintas lembaga, RSUD AWS Samarinda bersiap menjadi pusat layanan transplantasi ginjal rujukan di Kalimantan. Membuka jalan bagi harapan baru bagi pasien gagal ginjal yang membutuhkan kehidupan baru melalui transplantasi. (csv)








