BAIT.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang Kota Samarinda terus meluas. Hingga awal Oktober 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mencatat akumulasi area yang terdampak telah mencapai 608,18 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa luasan tersebut merupakan rekapitulasi data penanganan hingga awal bulan ini dan berpotensi terus bertambah seiring belum padamnya sejumlah titik api. ”Kurang lebih 608,18 hektare itu tersebar se-Kota Samarinda, mulai dari wilayah Kecamatan Sambutan, Kecamatan Palaran, kemudian ada di Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, dan beberapa wilayah yang lainnya,” kata Suwarso dalam keterangannya baru-baru ini.
Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup parah adalah Kawasan Pulau Atas. Dalam kurun waktu tiga hari terakhir, sebanyak 19 hektare lahan dilaporkan kembali terbakar, sehingga total cakupan area terdampak di kawasan tersebut diperkirakan menyentuh angka 53 hektare.
”Tapi ini kan masih melakukan pemadaman terus, belum selesai. Nanti di terakhir baru kita ketahui berapa luasnya,” lanjut Suwarso.
Upaya penanggulangan karhutla di lapangan dihadapkan pada hambatan geografis dan geologis yang kompleks. Selain vegetasi kering di atas tanah gambut yang menyebabkan api menyebar di bawah permukaan, ditemukannya lapisan batu bara di beberapa lokasi turut memicu munculnya bara api susulan meski permukaan telah padam.
Kondisi tersebut kian krusial setelah dukungan helikopter water bombing resmi ditarik oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak empat hari lalu untuk dialihkan ke wilayah lain di Kalimantan yang dinilai mengalami krisis lebih parah.”Helikopter itu sudah pergi sejak kurang lebih empat hari yang lalu. Menurut keputusan dan penilaian dari BNPB, ada yang lebih parah kondisi kebakarannya selain di Kalimantan Timur,” terangnya.
Kendati demikian, BPBD Samarinda terus berkoordinasi dan menyuplai dokumentasi kondisi lapangan terkini, khususnya pada titik-titik kritis yang sulit dijangkau. Dengan begitu diharapankan dukungan armada udara dapat dialokasikan kembali.Untuk saat ini, strategi pemadaman sepenuhnya bertumpu pada kekuatan personel darat dan tim relawan. Skema penyaluran air dilakukan secara berantai (estafet) menggunakan truk tangki (water tank) dari sumber air terdekat menuju lokasi kebakaran.
“Masih bertumpu dengan darat, sesuai kemampuan dibantu dengan relawan yang menjangkau titik-titik api terdalam,” ungkapnya.
Suwarso menambahkan, kombinasi medan yang terjal, keterbatasan pasokan air, serta akses kendaraan yang minim menjadi tantangan utama tim di lapangan.Guna meminimalkan risiko, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Samarinda disiagakan secara intensif setiap hari hingga pukul 16.00 WITA. Pengawasan dilanjutkan setelah jam operasional tersebut dengan memprioritaskan titik api yang berpotensi mengancam permukiman warga.
“Kami lakukan pemantauan terus dan yang kira-kira berdampak besar terhadap pemukiman, itu yang harus dijaga,” pungkas Suwarso. (csv)








