BAIT.ID – Di pesisir Kalimantan Utara (Kaltara), ada satu kuliner laut yang tak sekadar menggoda lidah, tapi juga sarat makna budaya: temberungun. Keong laut dari jenis Telescopium telescopium ini sejak lama menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Suku Tidung.
Berwarna hitam kehijauan atau kekuningan dengan tekstur kenyal, temberungun kerap hadir dalam berbagai perayaan adat dan momen penting masyarakat pesisir. Meski kini semakin sulit ditemukan, kuliner ini masih dilestarikan oleh warga Tidung di Bulungan dan sekitarnya.
Sebelum diolah, temberungun harus dibersihkan dengan teliti agar terbebas dari pasir. Setelah direbus hingga empuk, keong ini biasa disajikan dalam berbagai bentuk hidangan, seperti pepes atau tumisan, yang menghadirkan cita rasa gurih khas laut.
Acil Ming, salah satu warga Bulungan yang masih setia menjaga tradisi ini, menuturkan bahwa temberungun bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol kehidupan nelayan dan identitas budaya Tidung. “Masih ada sampai saat ini tradisi itu, selagi orang Tidung-Bulungan ini masih bekerja sebagai nelayan,” ujarnya.
Menurutnya, pada masa lalu, temberungun sangat mudah ditemukan di pesisir. Hampir setiap anak nelayan sudah akrab dengan hidangan ini, terutama saat acara adat atau perayaan keluarga. Namun kini, keong tersebut semakin langka sehingga hanya disajikan pada momen-momen istimewa.
Ming berharap, generasi muda Tidung tidak melupakan kuliner warisan leluhur ini. “Mudah-mudahan makanan khas ini dapat terus terjaga tradisinya,” katanya.
Lebih dari sekadar menu laut, temberungun mencerminkan hubungan erat masyarakat Tidung dengan alam dan laut. Warisan kuliner ini menjadi penanda identitas budaya yang hidup dan perlu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (csv)








