BAIT.ID – Di tengah deru mesin pelabuhan dan hiruk-pikuk perdagangan di Citra Niaga dan Pasar Pagi, sebuah mercusuar spiritual kini tampil lebih segar. Usai menunaikan salat Jumat pada 13 Februari 2026, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, meresmikan selesainya renovasi tahap kedua Masjid Raya Darussalam. Sebuah bangunan yang bukan sekadar tempat sujud, tapi juga saksi bisu perjalanan panjang kota ini.
Dahulu, lokasi masjid yang terkepung pusat ekonomi ini sempat memicu skeptisisme. Banyak yang meragukan apakah kekhusyukan ibadah bisa terjaga di tengah pusat keramaian. Namun, waktu justru membuktikan sebaliknya.
Andi Harun menyebutkan bahwa posisi strategis ini adalah sebuah hikmah. “Di tengah kesibukan umat mencari rezeki, masjid ini hadir sebagai oase. Ia menjadi penghilang dahaga spiritual di tengah padang kehidupan yang serba duniawi,” ungkapnya dalam sambutan yang dihadiri jajaran Pemkot Samarinda tersebut.
Renovasi kali ini bukan sekadar polesan kosmetik. Berdiri di atas lahan seluas 15.000 meter persegi, Masjid Raya kini memadukan estetika Timur Tengah dengan teknologi modern. Beberapa pembaruan yang terlihat seperti akustik prima dari sistem pengeras suara berkualitas tinggi untuk memastikan syiar terdengar jernih. Fasilitas higienis, seperti pembaruan area wudhu dengan partisi yang lebih praktis dan nyaman. Material berkelas nan modern juga ditambahkan yang tetap menjaga marwah arsitektur aslinya.
Bagi masyarakat Samarinda, Masjid Darussalam adalah simpul sosial, ekonomi, dan budaya yang berkelindan menjadi satu. Wali Kota menegaskan bahwa rampungnya renovasi ini adalah buah dari gotong royong antara pemerintah, donatur, dan masyarakat. “Masjid ini bukan hanya bangunan fisik, melainkan mercusuar spiritual yang menyatukan hati umat,” tambahnya.
Kini, dengan wajah barunya, Masjid Raya Darussalam siap kembali menjadi jantung bagi kegiatan sosial dan kajian ilmu, sekaligus pengingat pulang bagi mereka yang sedang bergelut dengan kesibukan kota. (csv)








