Protes Kebijakan Pemerintah, Ratusan Mahasiswa Segel Jembatan Mahakam Samarinda

Kamis, 18 Juni 2026
Suasana aksi demontrasi yang digagas Gerakan Masyarakat Kaltim Menggugat (GERAM) terkait kondisi nasional dan daerah.

BAIT.ID – Seruan aksi “Indonesia Darurat” mulai bergaung di Kota Samarinda, Kaltim. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai lembaga memadati kawasan simpang Jembatan Mahakam untuk menyuarakan protes terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat maupun daerah, Kamis 18 Juni 2026.

​Dalam aksi tersebut, massa menggelar orasi secara bergantian, membentangkan spanduk tuntutan, hingga menampilkan aksi teatrikal sebagai simbol kritik terhadap kondisi negara saat ini.​

Humas Aksi, Maulana Faiq Maftuh, mengungkapkan bahwa ada lima tuntutan utama yang dibawa oleh aliansi mahasiswa, mencakup isu nasional hingga regional. “Kami membawa isu regional dan mendesak agar jangan tunda lagi hak angket, serta segera diparipurnakan. Kami merasa selama ini masyarakat terus dibodohi. Itu sebabnya kami memilih turun ke Jembatan Mahakam, bukan ke Kantor DPRD maupun Pemprov Kaltim,” ujar Faiq di sela-sela aksi.​

Baca juga  Samarinda Serius Garap Proyek Konversi Sampah Jadi Listrik

Secara rinci, lima poin tuntutan yang dibawa oleh para demonstran meliputi mendesak penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dan harga bahan pokok. Menuntut penghentian represifitas aparat serta militerisme di ruang sipil.

Evaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menghapuskan Koperasi Merah Putih. Menghentikan pemborosan APBN dan APBD, serta mendesak penguatan nilai tukar rupiah. ​

Baca juga  Perda Penyelenggaraan Pendidikan Tak Bisa Atur Program Gratispol

Faiq menambahkan, kenaikan harga BBM telah memicu efek domino yang memberatkan ekonomi masyarakat di daerah. “Efek negatif dari harga BBM yang naik itu berdampak langsung pada lonjakan harga bahan pokok lainnya, seperti cabai, telur, dan minyak goreng,” tegasnya.​

Selain masalah ekonomi, massa aksi juga menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Menurut demonstran, program tersebut memerlukan evaluasi total karena dinilai jauh panggang dari api dalam implementasinya.​”Banyak kejanggalan dan masalah krusial yang mencuat di lapangan, mulai dari laporan anak-anak penerima MBG yang keracunan akibat makanan yang tidak layak, hingga distribusi yang berantakan,” sebut Faiq.​

Baca juga  Ketua DPRD Kaltim Pertanyakan Status Fender–Dolphin Jembatan Mahakam

Situasi sempat memanas ketika massa aksi mencoba menutup total akses lalu lintas dan menduduki Jembatan Mahakam. Aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat kepolisian yang mengamankan lokasi pun tidak terhindarkan.​

Akibat dari penutupan jalan tersebut, kemacetan panjang terjadi di sepanjang jalur Jembatan Mahakam. Ratusan kendaraan roda dua, roda empat, hingga bus karyawan tampak mengular dari kedua arah. Ratusan personel kepolisian dikerahkan ke lokasi untuk mengendalikan situasi sekaligus mengurai arus lalu lintas hingga Kamis malam. (csv)

Bagikan