Samarinda Targetkan Sistem Pemerintahan Berbasis AI Beroperasi Penuh pada 2028

Jumat, 8 Mei 2026
Wali Kota Samarinda, Andi Harun

BAIT.ID – Pemkot Samarinda memproyeksikan transformasi digital besar-besaran dengan membangun arsitektur sistem pemerintahan berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang ditargetkan rampung pada 2028.

Rencana strategis tersebut dipaparkan Wali Kota Samarinda, Andi Harun, saat menjadi narasumber dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Program Studi Desain Produk Industri Indonesia di Politeknik Negeri Samarinda, Kamis 7 Mei 2026.

Andi Harun menjelaskan bahwa langkah awal transformasi ini dimulai dari sektor layanan publik. Saat ini, Pemkot tengah mengintegrasikan layanan kesehatan yang menghubungkan seluruh puskesmas dan rumah sakit ke dalam satu platform digital. “Transformasi digital berbasis AI akan menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola pemerintahan modern dan pelayanan publik yang efisien bagi masyarakat,” ujar Andi Harun.

Baca juga  Naik Tipis, APBD Perubahan Kaltim 2025 Jadi Sebesar Rp21,74 Triliun

Selain digitalisasi, Andi Harun menyoroti urgensi pembangunan ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi. Merujuk pada data nasional, sektor ini telah menyerap 27,4 juta tenaga kerja dan menyumbang hampir 12 persen ekspor non-migas Indonesia.

Dalam forum bertema “Unity for Connectivity” tersebut, ia menekankan bahwa pemerintah daerah harus berperan sebagai orkestrator yang menghubungkan akademisi, industri, dan komunitas kreatif. Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pembangunan infrastruktur pendukung seperti design center, laboratorium kreatif, hingga inkubator industri di Samarinda.

Baca juga  Transformasi 26 Puskesmas di Samarinda Menjadi BLUD Resmi Rampung

“Ekonomi kreatif membutuhkan ekosistem yang saling terkoneksi. Pemerintah harus hadir sebagai orkestrator, bukan sekadar regulator,” tegasnya.

Terkait keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN), Andi Harun melihatnya sebagai peluang strategis bagi pelaku kreatif lokal. Ia menargetkan Samarinda dan Kaltim dapat mengisi celah ekosistem kreatif di kawasan ibu kota baru tersebut agar tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan infrastruktur.

Baca juga  Kebuntuan Pokir Kaltim: DPRD Bersikukuh pada Hasil Pansus, TAPD Minta Perampingan

Sebagai referensi pengembangan, Andi Harun memaparkan praktik terbaik dari negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan Inggris. Ia mencontohkan Korea Selatan yang berhasil memanfaatkan industri kreatif sebagai instrumen diplomasi budaya atau soft power di tingkat global.

“Masa depan industri kreatif tidak ditentukan oleh siapa yang paling besar, tetapi oleh siapa yang paling mampu membangun konektivitas dan kolaborasi,” pungkasnya di hadapan para akademisi dan praktisi desain produk nasional. (csv)

Bagikan