3.107 KK di Mahulu Terancam Krisis Pangan Akibat Sungai Mahakam Surut

Senin, 17 Agustus 2026
Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud saat melepas bantuan ke Mahulu di Kantor Gubernur Kaltim. Bantuan tersebut untuk mengatasi kelangkaan bahan pokok akibat tersendatnya distribusi karena jalur sungai surut. (istimewa)

BAIT.ID – Sebanyak 3.107 kepala keluarga (KK) di wilayah perbatasan Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) kini berada dalam ancaman kerawanan pangan parah. Kemarau ekstrem sepanjang Juli hingga Agustus 2026 menyebabkan debit air Sungai Mahakam merosot tajam, menghentikan akses transportasi air yang selama ini menjadi jalur utama distribusi logistik.​

Berdasarkan data resmi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kaltim per Agustus 2026, krisis ini berdampak langsung pada dua wilayah terisolasi. Pertama, Kecamatan Long Pahangai masuk kategori rawan pangan. Akibat terputusnya jalur pasokan sungai ada 1.729 KK terdampak. Kemudian di Kecamatan Long Apari ada 1.378 KK mengalami isolasi logistik ekstrem, yang memicu lonjakan harga barang baku secara drastis, termasuk harga beras eceran yang menembus hingga mendekati Rp1 juta per karung.​

Baca juga  Pemprov Kaltim Terus Lobi Kementerian PAN-RB, Perjuangkan Honorer Non Data Base

Kelangkaan ini dipicu oleh terhentinya operasional kapal besar, speedboat, dan longboat akibat munculnya riam-riam dangkal. Distribusi terpaksa dialihkan secara estafet menggunakan perahu kecil (ketinting) dengan kapasitas terbatas, sehingga memicu kelangkaan pasokan solar, lonjakan harga BBM eceran, hingga penipisan stok LPG 3 kilogram.​

Merespons ancaman krisis pangan tersebut, Pemprov Kaltim menyalurkan bantuan logistik darurat dari Samarinda tepat pada Hari Kemerdekaan, Senin 17 Agustus 2026. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud melepas enam truk armada logistik yang membawa cadangan pangan, komoditas operasi pasar, serta pasokan energi menuju wilayah terdampak.​

Baca juga  Pemprov Kaltim Menanti Arahan Pusat Soal Penetapan UMP 2026

“Ini adalah bukti nyata Pemprov Kaltim hadir di tengah masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan dan Mahakam Ulu. Begitu sungai surut, distribusi barang, jasa, dan manusia terganggu. Kita tidak boleh hanya berharap pada aliran Sungai Mahakam,” tegas Rudy.

​Ia menyoroti pentingnya percepatan pembangunan akses darat menuju Long Apari dan Long Pahangai agar ketergantungan pada transportasi air dan angkutan udara yang mahal dapat dipangkas.​

Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim, Ujang Rahmat, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan tahap pertama ini memadukan dua skema, yaitu Gerakan Pangan Murah (GPM) berpatokan harga Samarinda dan penyaluran cadangan pangan pemerintah gratis.​

Baca juga  Dana Transfer Dipangkas, DPRD Kaltim Dorong Terobosan Gali PAD

Bantuan logistik tahap pertama Pemprov Kaltim ini terdiri dari Beras Premium (GPM) sebanyak 330 sak (kemasan 5 kg), Beras Cadangan Pangan Gratis ada 2.400 sak (kemasan 5 kg). Selain itu juga dibawa 600 kemasan 2 liter Minyak Goreng, Gula Pasir sebanyak 1.200 kg serta 720 tabung 3 kilogram dan 200 tabung untuk ukuran 12 kilogram.

​Penyaluran logistik ini melibatkan konsorsium daerah yang mencakup TPID, Pertamina Patra Niaga, Bulog, hingga PT MBS. Pemprov Kaltim memastikan bahwa pengiriman tahap awal ini akan disusul oleh tahapan berikutnya guna menjaga kestabilan pangan dan energi di wilayah perbatasan Mahulu hingga debit air kembali normal. (csv)

Bagikan