Infrastruktur Irigasi Rusak Puluhan Tahun, Produktivitas Petani Betapus Tertahan

Senin, 20 April 2026
Ananda Emira Moeis langsung menerima keluhan petani Betapus, Samarinda Utara terkait saluran irigasi yang rusak. (istimewa)

BAIT.ID – Ironi menyelimuti sektor pertanian di jantung ibu kota Kaltim. Meski berada di wilayah perkotaan, para petani di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, hingga kini masih berjuang melawan keterbatasan infrastruktur pengairan yang tidak memadai.

Saluran irigasi yang mengandalkan sumber air dari Bendungan Benanga -nadi utama bagi lahan persawahan di Betapus- dilaporkan mengalami kerusakan parah. Kondisi ini menyebabkan distribusi air tersumbat dan menghambat siklus tanam warga.

Satiran, salah satu petani setempat, mengungkapkan bahwa kerusakan jalur irigasi tersebut bukan merupakan persoalan baru. Menurutnya, hambatan akses air ini telah berlangsung selama puluhan tahun tanpa perbaikan yang signifikan. “Kami mengeluhkan aliran air irigasi. Sumbernya dari Waduk Benanga Lempake, tapi jalur distribusinya sudah banyak yang rusak parah,” ungkap Satiran.

Baca juga  Pemprov Kaltim Fokus Perkuat Fiskal Daerah di Tengah Pemangkasan TKD

Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Ketua II DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, mendesak pemerintah provinsi maupun kota untuk memberikan atensi khusus. Ia menegaskan bahwa normalisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi Bendungan Benanga merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.

“Persoalan ini berdampak langsung pada produktivitas pangan kita. Pemerintah harus segera melakukan rehabilitasi jalur irigasi ini agar pasokan air ke sawah warga kembali optimal,” tegas Ananda.

Baca juga  Pasar Murah di Palaran Diserbu Warga

Berdasarkan data lapangan, kawasan Betapus memiliki potensi lahan pertanian yang sangat strategis dengan luas mencapai kurang lebih 250 hektare, mencakup kategori lahan basah maupun kering.

Politisi PDI Perjuangan tersebut juga menyoroti adanya kesenjangan produktivitas yang cukup lebar antara petani lokal dengan petani di luar daerah. Saat ini, rata-rata hasil panen di Betapus hanya berkisar di angka 4–5 ton per hektare. Angka tersebut tertinggal jauh dari produktivitas di Pulau Jawa yang mampu menembus 6–8 ton per hektare.

Baca juga  Gratis Biaya Pendidikan Tinggi Tetap Berjalan di Tengah Badai Efisiensi

Ananda menekankan bahwa untuk mengejar ketertinggalan tersebut, diperlukan intervensi ganda dari pemerintah. Mulai dari sektor infrastruktur, harus ada perbaikan total jaringan irigasi dan akses pengairan. Kemudian juga perlu diterapkan pendampingan, mulai program bantuan sarana produksi pertanian dan edukasi teknologi tanam.

“Potensi besar ini harus didukung infrastruktur yang memadai. Dengan intervensi yang tepat, kita tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengangkat derajat kesejahteraan petani yang menggantungkan hidupnya di sektor ini,” pungkasnya. (csv)

Bagikan