BAIT.ID — Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian masif di Kaltim hingga mengancam keselamatan satwa dilindungi. Sebanyak 11 individu orangutan yang tengah menjalani proses pengembalian sifat alamiahnya di Sekolah Hutan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, terpaksa dievakuasi setelah lidah api menerobos masuk ke bentang alam konservasi tersebut pada Selasa, 1 September 2026 lalu.
Kebakaran hebat ini dipicu oleh lompatan api (spotting) dari Area Penggunaan Lain (APL) di luar kawasan sekitar pukul 16.00 WITA. Terpaan angin kencang dan kondisi vegetasi yang mengering akibat musim kemarau membuat api dengan cepat menjalar, mengancam ekosistem tempat tinggal sementara primata endemik Kalimantan tersebut.
General Manager Yayasan Jejak Pulang, Rahmat Novirsal, mengungkapkan bahwa titik api sejatinya mulai terpantau sejak pukul 12.30 WITA. Meski tim lapangan sempat berupaya melakukan mitigasi awal, pergerakan api tak terbendung hingga merusak benteng pertahanan kawasan KHDTK. “Kebakaran sangat hebat, api melompat dari area APL ke KHDTK. Ancaman terbesar adalah paparan asap pekat yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut pada satwa, serta perambatan api yang mengepung jalur pergerakan mereka,” terang Rahmat, Sabtu, 5 September 2026.
Menghadapi situasi krisis, status darurat langsung diaktifkan. Tim Departemen Orangutan bersama para animal keeper bergerak cepat menuntun 11 orangutan menyusuri jalur evakuasi presisi yang mengarah ke area sungai—titik yang dinilai paling aman dari paparan api sekaligus dekat dengan akses keluar.
Head of Orangutan Care Yayasan Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah, menjelaskan bahwa kecepatan respon lapangan ini merupakan hasil dari kesiapsiagaan kebencanaan yang dirancang sejak Juni 2026 untuk mengantisipasi dampak kemarau ekstrem.
Proses penyelamatan darurat ini turut melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU). Dalam durasi dua jam, seluruh orangutan berhasil dipindahkan menuju fasilitas penampungan sementara di Kilometer 38 Samboja tanpa ada korban jiwa maupun cedera.
Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menegaskan bahwa langkah pengungsian ini diambil demi menjaga asas animal welfare (kesejahteraan satwa) dan mencegah trauma mendalam yang dapat merusak proses rehabilitasi panjang yang telah dilalui orangutan tersebut.
Pasca-penyelamatan, tim medis hewan langsung melakukan pemantauan intensif. Dokter Hewan Yayasan Jejak Pulang, drh. Tetri Regilya, mengonfirmasi bahwa 11 orangutan dalam kondisi stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
Di sisi lain, operasi pemadaman di area KHDTK Samboja yang melibatkan personil Manggala Agni dan tim gabungan berhasil menundukkan si jago merah sekitar pukul 18.30 WITA. Kendati api telah padam, BKSDA Kaltim bersama mitra terkait tetap memperketat pengawasan di lokasi rehabilitasi guna mengantisipasi munculnya titik api susulan yang berpotensi merusak sisa ruang hidup satwa liar di kawasan tersebut. (csv)








