Meski Masih Status Normal, Krisis Air Baku Mulai Hantui Warga Samarinda

Sabtu, 5 September 2026
Meski musim kemarau panjang, pengolahan air bersih di Samarinda masih belum terganggu. Debit air di waduk Benanga juga dinyatakan masih terjaga. (istimewa)

BAIT.ID — Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai membayangi pasokan air bersih di Kota Samarinda. Meski Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Kencana mengklaim operasional masih berada dalam tingkat Strategi Normal, alarm kewaspadaan telah berbunyi seiring menyusutnya debit air di Bendungan Benanga dan sempat menurunnya kualitas air minum warga.

Direktur Utama Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda, Nor Wahid Hasyim, mengungkapkan bahwa lima hingga enam hari lalu Kota Tepian sempat terseret masuk ke fase Waspada. Fenomena arus sorong yang bertepatan dengan pasang air laut fase bulan purnama sempat melumpuhkan stabilitas dua Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan memangkas kapasitas produksi.

Baca juga  Borneo FC Kembali Panaskan Mesin, Lefundes Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Lawan Dewa United

“Kondisi saat ini posisi Kota Samarinda masih berada pada tingkat Strategi Normal. Namun, kami membagi mitigasi dalam empat tingkatan: Normal, Waspada, Siaga, hingga Kritis,” ujar Nor Wahid dalam jumpa pers penanganan darurat kekeringan, Jumat, 4 September 2026.

Meskipun pasokan air baku terbantu oleh curah hujan di kawasan hulu Sungai Mahakam, yang menyokong lebih dari 80 persen kebutuhan air Samarinda, kerentanan serius justru terjadi pada sumber air baku non-sungai.

Baca juga  Pemisahan Dispora dan Pariwisata Dinilai Krusial untuk Majukan Samarinda

Bendungan Benanga kini menjadi titik paling krusial yang berada dalam pengawasan ketat. Berbeda dengan Sungai Mahakam, Sungai Karang Mumus, atau Sungai Bengen, pasokan air di waduk ini bergantung penuh pada curah hujan lokal. “Volume inflow (aliran masuk) di Bendungan Benanga mulai menurun drastis. Ini menjadi titik vital yang kami pantau melekat selama kemarau,” tegas Nor Wahid.

Baca juga  Layanan Jemput Bola Disdukcapil Kaltim Sasar Ratusan Pekerja Sawit di Perbatasan Berau–Kutim

Dampak kemarau tak hanya mengancam kuantitas, tetapi juga telah memukul kualitas air yang diterima pelanggan. Tirta Kencana mencatat sekitar 4 persen wilayah pelayanan sempat menerima air keruh akibat melonjaknya kandungan zat besi dan mangan.

Pihak Perumdam mengklaim telah mengintervensi masalah keruhnya air tersebut melalui penambahan dosis bahan kimia dan pengolahan khusus. Kendati demikian, masyarakat mengimbau warga untuk mulai menghemat air dan menyiapkan penampungan mandiri sebelum status mitigasi ditingkatkan jika kemarau meluas. (csv)

Bagikan