DPRD Samarinda Desak Pemasangan Pagar Pengaman di Jembatan Mahakam Pasca-Rentetan Kasus Percobaan Bunuh Diri

Selasa, 7 Juli 2026
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny

​BAIT.ID – DPRD Samarinda mendesak pemerintah kota segera memasang pagar pengaman di Jembatan Mahakam. Langkah ini dinilai mendesak guna mengantisipasi maraknya fenomena percobaan bunuh diri yang terjadi di ikon Kota Tepian tersebut belakangan ini.​

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menyoroti kondisi fisik infrastruktur jembatan yang dinilai minim proteksi bagi pejalan kaki. “Secara kondisi, Jembatan Mahakam itu perlu pagar pengaman. Adanya pagar akan membuat orang berpikir dua kali untuk melompat. Setidaknya, kita meminimalisasi ruang bagi seseorang untuk melakukan tindakan tersebut,” ujar Novan, beberapa waktu lalu.​

Baca juga  DPRD Kaltim Soroti Lambatnya Perbaikan Fender Jembatan Mahakam

Novan secara khusus menyoroti kondisi Jembatan Kembar (Mahakam IV). Ia menyebut area trotoar bagi pejalan kaki yang berbatasan langsung dengan sungai sama sekali tidak memiliki pagar pembatas yang memadai, sehingga membuka celah risiko yang sangat besar.​

Desakan legislatif ini berkaca pada rentetan peristiwa tragis yang terjadi dalam sebulan terakhir. Pada Jumat 5 Juni 2026, seorang pria nekat melompat dari atas jembatan setelah meninggalkan sepucuk surat. Jasad korban baru ditemukan mengambang dua hari kemudian, Minggu 7 Juni 2026.​

Baca juga  TC Makin Matang, Borneo FC Genjot Fisik dan Taktik Jelang Musim Baru

Belum genap dua pekan dari insiden tersebut, aksi serupa kembali terjadi. Seorang wanita mencoba melompat dari jembatan yang sama, namun beruntung aksinya berhasil digagalkan oleh warga dan petugas di lokasi.​

Selain perbaikan infrastruktur fisik, Novan juga menyayangkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan jiwa (psikologi) yang telah disediakan pemerintah, mulai dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit daerah.​

Baca juga  Jembatan Mahakam Terus Ditabrak: Akademisi Kritik Lemahnya Tata Kelola Lalu Lintas Sungai

Ia mengakui bahwa persoalan tekanan psikologis tidak mudah dideteksi dari luar karena kecenderungan masyarakat yang memilih memendam masalahnya sendiri. Oleh karena itu, Novan menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan terdekat sebagai jaring pengaman pertama.

​”Kami berharap masyarakat yang tengah menghadapi beban hidup berat tidak hanya mencurahkan isi hatinya di media sosial. Manfaatkan fasilitas psikolog pemerintah, dekatkan diri kepada Tuhan, dan terbukalah kepada orang-orang terdekat yang sekiranya bisa menenangkan batin,” pungkas Novan. (csv)

Bagikan