BAIT.ID – Pemkot Samarinda mengandalkan ketersediaan stok dan penguatan pasokan untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah ancaman perubahan cuaca yang berpotensi mengganggu produksi pertanian. Meski stok sejumlah komoditas dinilai mencukupi, pemerintah tetap perlu mengantisipasi risiko kenaikan harga dan gangguan distribusi.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, mengatakan stabilitas pasokan dan harga pangan menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat. “Stabilitas pangan ini merupakan upaya Pemkot Samarinda menjaga stabilitas ekonomi daerah,” ujarnya di Balai Kota Samarinda, Selasa, 20 Oktober 2026.
Berdasarkan evaluasi Pemkot Samarinda, persediaan beras mencapai 5.839 ton dan diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga enam bulan. Stok minyak goreng diproyeksikan bertahan empat bulan, sedangkan daging sapi dan telur ayam diperkirakan mencukupi kebutuhan selama dua hingga tiga bulan.
Selain stok beras dan kebutuhan pokok lainnya, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Varia Niaga melaporkan persediaan ayam beku sebanyak delapan ton, dengan tambahan pesanan 30 ton. Persediaan lainnya meliputi bebek 2,5 ton, ikan bandeng 45 ton, dan telur omega sebanyak 17.000 butir.
Perumda Varia Niaga juga menjajaki pasokan beras medium dari Lamongan, Jawa Timur, dan Sulawesi untuk memperkuat ketersediaan pangan di Kota Tepian.
Namun, kecukupan stok belum otomatis menjamin harga tetap terjangkau di tingkat konsumen. Kelancaran distribusi, kesinambungan pasokan, dan kemampuan pemerintah merespons perubahan harga menjadi faktor yang turut menentukan stabilitas pangan.
Pemkot Samarinda berencana menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak sebagai tindak lanjut arahan Badan Pangan Nasional dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia. Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Di sisi lain, perubahan kondisi cuaca turut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi produksi pertanian. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda dalam rapat pemerintah daerah, kualitas udara selama sepekan terakhir berada dalam kategori tidak sehat akibat sebaran asap dari titik panas di wilayah selatan.
BMKG juga memprakirakan awal musim hujan mundur sekitar satu bulan, yakni hingga awal atau pertengahan November 2026. Pergeseran musim tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas pertanian dan kesinambungan pasokan sejumlah komoditas.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian ialah cabai lokal. Pemkot mendorong penyuluh pertanian lapangan (PPL), termasuk penyuluh swadaya, meningkatkan pendampingan kepada petani untuk menjaga produksi.
Penguatan produksi lokal dinilai penting agar pasokan tidak terlalu bergantung pada daerah lain, terutama ketika kondisi cuaca mengganggu hasil panen atau distribusi. Dengan stok sejumlah komoditas yang diperkirakan masih mencukupi, tantangan Pemkot Samarinda berikutnya ialah memastikan pasokan tetap lancar dan harga terkendali. Langkah tersebut menjadi krusial agar tekanan biaya pangan tidak semakin membebani daya beli masyarakat. (csv)








