BAIT.ID – Ratusan sopir truk mendatangi Balai Kota Samarinda pada Senin, 24 Agustus 2026 pagi. Mereka memprotes kebijakan Dinas Perhubungan (Dishub) terkait mekanisme pengisian solar bagi truk di SPBU.
Para sopir yang tergabung dalam Forum Gerakan Sopir Samarinda (FGSS) mengepung Balai Kota. Aksi ini memicu kemacetan parah di sekitar kawasan kantor pemerintahan setelah armada truk memenuhi sepanjang Jalan Kesuma Bangsa sejak pukul 09.40 WITA.
Massa menolak kebijakan baru Dishub Samarinda terkait mekanisme pengisian solar di SPBU yang direncanakan berlaku mulai awal September 2026. Dalam aturan baru tersebut, penerbitan dan pembatasan kupon subsidi solar diwajibkan melalui Kantor Dishub Samarinda.
Koordinator Aksi, Hendra Buton, menilai mekanisme baru tersebut memperpanjang alur birokrasi, menyita waktu operasional, hingga berpotensi merugikan pendapatan para sopir. ”Langkah itu memakan waktu dan rawan diselewengkan. Sebelumnya sistem Fuel Card saja diperjualbelikan, apalagi cuma selembar kertas,” ujar Hendra di sela-sela aksi.
Selain soal kupon, FGSS menyampaikan tiga tuntutan utama lainnya. Pertama meminta penambahan kuota Biosolar untuk armada angkutan barang lintas kota dan antarprovinsi. Kemudian evaluasi penertiban kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL). Para sopir menolak pemotongan bak kendaraan dalam program normalisasi, khususnya bagi armada tahun lama yang melayani rute pelosok Kaltim. Serta meminta relaksasi kelayakan uji dengan fleksibilitas uji berkala bagi armada keluaran lama yang diproduksi sebelum regulasi ODOL diterapkan.
Aksi tersebut diterima langsung oleh Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Pemerintah Kota Samarinda berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan Dishub, termasuk mengkaji distribusi lokasi pengambilan kupon agar tidak terpusat di satu titik. “Kami akan diskusikan dulu, serta melihat kesiapan tenaga pegawai pihak Dishub sendiri,” kata Andi Harun.
Sebagai solusi jangka panjang, Wali Kota menginstruksikan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda untuk mengembangkan aplikasi sistem antrean digital bagi armada kendaraan besar. “Sistem ini sedang disiapkan, targetnya dapat beroperasi pada pekan kedua September,” pungkasnya. (csv)








