BAIT.ID – Pemprov Kaltim mendorong Mahakam Investment Forum (MIF) menjadi pintu masuk investasi baru. Tujuannya jelas, untuk memperluas sektor usaha di luar minyak dan gas bumi (migas) serta batu bara yang masih mendominasi perekonomian daerah.
Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni, mengatakan daerah ini memiliki sejumlah keunggulan untuk menarik investor, mulai dari kekayaan sumber daya alam, posisi geografis yang strategis, hingga kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN). “Kaltim memiliki potensi investasi yang besar, baik dari sektor sumber daya alam, perkebunan, maupun industri pengolahan. Potensi ini perlu dikembangkan agar mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah,” ujar Sri dalam Mahakam Investment Forum di Fugo Hotel Samarinda, Rabu, 21 Oktober 2026.
Menurut dia, potensi investasi Kaltim tidak hanya bertumpu pada migas dan batu bara. Sektor mineral, seperti nikel dan pasir kuarsa, serta perkebunan kelapa sawit juga memiliki peluang untuk dikembangkan. Bahkan, industri pengolahan nikel telah hadir di wilayah Kaltim.
Kaltim memiliki perkebunan kelapa sawit seluas hampir 1,5 juta hektare dan tercatat sebagai salah satu produsen sawit terbesar di Indonesia, dengan posisi kelima secara nasional. “Kehadiran IKN semakin memperkuat posisi Kaltim sebagai pasar baru sekaligus kawasan potensial bagi pengembangan investasi berkelanjutan,” imbuhnya.
Selain potensi sumber daya alam, posisi Kaltim di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dinilai dapat mendukung konektivitas perdagangan dan distribusi barang. Dengan luas wilayah sekitar 127 ribu kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar empat juta jiwa, Kaltim dinilai memiliki basis ekonomi yang potensial untuk dikembangkan.
Dari sisi realisasi investasi, Sri menyebut Kaltim konsisten masuk 10 besar nasional dalam lima tahun terakhir. Capaian tersebut, menurut dia, menunjukkan kemampuan daerah bersaing dengan provinsi lain, termasuk pusat-pusat ekonomi di Pulau Jawa.
Namun, kinerja investasi Kaltim pada semester I 2026 tercatat berada di peringkat ke-34 secara nasional. Pemerintah provinsi optimistis posisi tersebut dapat membaik pada semester berikutnya dan kembali menembus 10 besar.
Di sisi lain, dominasi investasi pada sektor migas dan batu bara masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Ketergantungan terhadap dua sektor tersebut membuat diversifikasi ekonomi menjadi agenda penting agar pertumbuhan ekonomi Kaltim tidak hanya ditopang industri berbasis sumber daya alam.
Melalui MIF, pemerintah daerah diharapkan tidak sekadar memperkenalkan potensi investasi, tetapi juga mendorong realisasi investasi pada sektor pengolahan dan usaha bernilai tambah. Langkah tersebut penting untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat keberlanjutan perekonomian Kaltim. (csv)








