BAIT.ID – Borneo FC pulang dari Bantul dengan kepala tertunduk. Keunggulan yang sempat berada dalam genggaman buyar di paruh kedua, meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi sang pelatih, Mauro Jeronimo, jelang pekan-pekan krusial BRI Super League 2026/27.
Bertamu ke Stadion Sultan Agung, pada Minggu, 1 November 2026, Pesut Etam sebenarnya sempat berada di jalur kemenangan. Gol Asgal Habib Altarik pada menit ke-33 membawa wakil Kaltim itu memegang kendali atas tuan rumah PSIM Yogyakarta. Namun, alih-alih mengunci tiga poin, pertahanan Borneo FC runtuh di babak kedua dan berujung pada kekalahan pahit 1-2.
Mauro tidak menutup mata atas lunturnya konsistensi anak asuhnya. Juru taktik asal Portugal itu mengakui timnya gagal menguasai ritme sejak peluit pertama dibunyikan. “Kami kalah dalam beberapa perebutan bola dan kesulitan membangun serangan,” ujar Mauro usai laga.
Bagi Mauro, hasil minor ini memperjelas satu penyakit lama yang belum tuntas: ketidakstabilan performa sepanjang 90 menit penuh. Ia menekankan bahwa sebuah tim papan atas harus mampu menjaga standar permainan, apapun tekanan yang dihadapi di atas lapangan.
Faktor mental dan jam terbang pemain muda sekali lagi menjadi sorotan utama. Dengan skuad yang banyak dihuni talenta belia, Mauro menilai hilangnya fokus di momen-momen krusial menjadi celah mematikan yang langsung dimanfaatkan oleh Laskar Mataram.
“Fokus menjadi salah satu hal yang harus segera kami tingkatkan. Skuad ini masih dihuni banyak pemain muda sehingga mereka perlu memiliki konsentrasi dan kesiapan mental yang lebih baik,” tegasnya.
Kekalahan di Bantul kini resmi masuk ruang evaluasi. Mauro menuntut para penggawa Borneo FC segera mentransformasikan hasil buruk ini menjadi bahan bakar pembelajaran, agar kehilangan poin bodoh serupa tidak kembali terulang pada laga-laga berikutnya. (csv)








