BAIT.ID – Pemkot Samarinda resmi mengoperasikan 10 unit mesin pembakar sampah (insinerator) yang tersebar di sejumlah wilayah untuk mengatasi krisis volume sampah kota. Pengoperasian fasilitas ini diklaim mampu memangkas produksi sampah harian Samarinda hingga 160 ton per hari.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyatakan bahwa satu unit insinerator memiliki kapasitas minimal memusnahkan 8 ton sampah per hari dalam satu sif operasional. Jika kapasitas ditingkatkan menjadi dua sif, potensi reduksi sampah dari 10 insinerator bisa mencapai 160 ton dari total 600 ton produksi sampah harian kota.
“Kalau rata-rata bisa dua sif dalam satu hari dikali 10 unit, berarti ada 160 ton pengurangan terhadap 600 ton total sampah kita per hari,” ujar Andi Harun saat meninjau insinerator Kampung Baqa, Samarinda Seberang, Selasa 30 Juni 2026.
Meski berpotensi ditingkatkan hingga tiga sif, pemkot masih mempertimbangkan faktor ketahanan fisik dan keselamatan para pekerja lapangan. Peningkatan jam kerja ini nantinya juga akan disesuaikan dengan skema penambahan pendapatan bagi para pengelola.
Meski seluruh mesin di 10 titik kecamatan dinyatakan siap beroperasi secara teknis, Andi Harun mengakui implementasinya di lapangan masih dilakukan secara bertahap. Kendala utama saat ini bukan lagi pada kesiapan teknologi, melainkan masalah infrastruktur pendukung.
”Secara bertahap. Kalau mesinnya sudah siap semua, cuma ada faktor lingkungan yang belum tuntas, seperti jalan akses menuju lokasi,” jelasnya.
Pengoperasian insinerator ini menandai peralihan strategi pengelolaan sampah di Samarinda yang mulai bergeser ke teknologi pemusnahan lokal guna mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bersamaan dengan peresmian tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda juga melakukan aksi penanaman pohon sebagai langkah mitigasi dampak perubahan iklim di sekitar area operasional. (csv)







